Senin, 22 April 2019

GEREJA BLENDUK, OBYEK WISATA SEJARAH UTAMA DI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG


Sebetulnya gereja ini memiliki nama asli Gereja GPIB Immanuel (Gereja Prosestan Indonesia Bagian Barat). Tetapi karena kubahnya berbentuk blenduk, maka lebih sering disebut sebagai Gereja Blenduk. Dalam bahasa Jawa, kata blenduk mengandung arti bulat atau bundar.

Gaya arsitektur bangunan

Gereja yang sering dijadikan obyek wisata sejarah dan religi ini terletak di kawasan kota lama Semarang, tepatnya di Jl. Letjend Suprapto No. 32, Tanjung Mas, Semarang Utara. Didirikan pada tahun 1753, bangunan lawas tersebut dibuat dengan gaya desain Neo Klasik dan punya tampilan paling menonjol di area sekitarnya.

Saat pertamakali dibangun, Gereja Blenduk memakai arsitektur tradisional Jawa dalam wujud rumah panggung. Namun pada tahun 1787, bangunannya dirombak total dan hal ini berulang lagi pada tahun 1794.

Bangunan yang sekarang dapat disaksikan oleh traveler merupakan hasil pemugaran terakhir yang dikerjakan pada 1894 oleh W. Westmas dan H.PA. De Wilde. Kubah besar yang ada di bagian teratas selalu menjadi fokus pandangan utama bagi setiap wisatawan yang berkunjung.

Bentuknya yang unik membulat seperti setengah bola terletak di belakang dua menara kecil membuat keseluruhan desain bangunan terlihat makin molek dan cantik. Kubah ini memiliki warna kecoklatan, sangat kontras dengan dinding yang bewarna putih bersih.

Gereja Blenduk menghadap kearah selatan dan memiliki tiga pintu masing-masing didepan dan disisi kiri serta sisi kanan. Ketiganya dilengkapi oleh pilar dan portico atau hiasan facade gaya Dorik Romawi dengan atap model pelana kuda.

Sebelum masuk dalam ruangan gereja, traveler akan melalui pintu model ganda yang terbuat dari material kayu dan berbentuk lengkungan dibagian atasnya. Sedangkan jendelanya terdiri dari dua macam. Pertama jendela bergaya krepyak, sedangkan yang kedua berbentuk jendela kaca berwarna-warni.

Hiasan interior

Dalam ruangan utama terdapat beberapa interior yang sangat menarik untuk diamati. Pertama adalah lantainya yang dibuat dari ubin penuh ornamen warna kuning, coklat dan hitam. Kursi untuk para jamaat berderet rapi terbuat dari kayu dikombinasi dengan rotan.

Di depan deretan kursi terdapat mimbar untuk paduan suara yang didalamnya terdapat orgen pipa atau orgel kuno bergaya barok buatan sekitar tahun 1700. Meski sudah tidak bisa dipakai lagi, namun keberadaannya mampu membuat ruang paduan suara ini terlihat makin cantik.

Tidak jauh dari tempat peletakan orgel terlihat hiasan patung dalam wujud seorang bidadari bersayap sedang memainkan alat musik harpa. Dibelakangnya terdapat patung lagi yang juga berwujud bidadari bersayap sedang meniup terompet.

Secara keseluruhan, Gereja Blenduk atau Gereja GPIB Immanuel sangat layak dipilih sebagai destinasi wisata sejarah dan wisata religi ketika berlibur di Semarang. Terlebih lagi masih ada puluhan bangunan kuno lain yang bisa dinikmati keunikannya di kawasan kota lama tersebut.





0 komentar:

Posting Komentar